Breaking News

Pelatihan ROTAN KWT Puskud Saiyo, Tampilkan Pemateri Dr. I Ketut Budaraga dari UNES Padang

Kelompok KWT Puskud Saiyo bersama Narasumber Dr. Ir. I Ketut Budaraga, MSi.

Kegiatan praktek Pembuatan Ramuan Organik Tanaman (ROTAN). 


PADANG, SUARA PALAPA -- Kelompok Masyarakat Kawasan Wisata Terpadu (KWT) Pusat Koperasi Unit Desa (Puskud) Saiyo Kelurahan Koto Panjang Ikur Koto Kecamatan Koto Tangah Kota Padang menggelar Pelatihan Ramuan Organik Tanaman (ROTAN), di kelurahan setempat.

Pelatihan ini, KWT Puskud Saiyo bekerjasama Universitas Ekasakti (UNES) Padang, Minggu, 30 Agustus 2020.

Tampil sebagai narasumber pada pelatihan tersebut, Dr. I Ketut Budaraga, M.Si, Dosen PNS DPK UNES Padang.

Berikut, materi yang dipaparkan di hadapan peserta pelatihan itu.

Sampah merupakan suatu benda yang tidak ternilai atau tidak berharga yang ada di sekitar lingkungan masyarakat . Di Indonesia kita dapat melihat sampah di mana-mana khususnya di daerah perkotaan dan sekarang menjadi masalah besar lingkungan Indonesia.

Sampah di Indonesia merupakan masalah yang sangat serius dan juga menjadi masalah sosial, ekonomi dan budaya termasuk di Kota Padang.

Hampir di semua kota di Indonesia mengalami kendala dalam mengolah sampah. Hal ini terjadi karena pengolahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di sebuah kota lahannya masih kurang, termasuk kesadaran masyarakat dalam membuang sampah di tempat sampah masih kurang. Sehingga masyarakat banyak membuang sampah di sungai.

Bukan saja di sungai, akibat kurangnya TPA, mengakibatkan masyarakat membuang sampah ke selokan, kali, dan di lautan. Sehingga kebersihan dan ekosistem laut akan rusak, misalnya ikan dan terumbu karang akibat sampah plastik yang dibuang warga yang tinggal di sekitar pantai. Dan ada diberitakan bahwa seekor paus ditemukan di pinggir pantai dengan seisi perutnya terdapat berbagai macam sampah plastik yang telah masuk dalam perutnya dan sulit untuk melakukan pencernaan makanan. Indonesia termasuk ke dalam 10 besar Negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia.

Hal ini tidak menutup kemungkinan menimbulkan sejumlah persoalan lanjutan, di antaranya adalah produksi sampah dan pembuangannya.

Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, bahwa Indonesia memproduksi sampah hingga 65 juta ton pada 2016 tahun lalu. Dan jumlah sekarang naik 1 juta ton dari sebelumnya.

Berdasarkan laporan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan sampah yang dihasilkan berdominan sampah organic yang mencapai sekitar 60 persen dan sampah plastik yang mencapai 15 persen dari total timbunan sampah, terutama di daerah perkotaan.

Sesuai data tersebut menunjukan dalam 10 tahun terakhir banyaknya sampah plastik terus meningkat. Tak dapat dipungkiri sampah yang tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan pencemaran di lingkungan kita. Terus siapa ke depan yang akan menanggung akibatnya? Permasalahan yang muncul atau sering terjadi di TPA akan merambat ke hulu yang mengakibatkan terhentinya atau terhambatnya pengangkutan sampah dari sumber sampah ke TPA.

Sampah merupakan musuh bagi lingkungan karena mampu menimbulkan dan mencermari lingkungan. Lingkungan yang tercemar oleh pembuangan sampah akhirnya akan kotor, kumuh, jorok dan bau kemudian akan menimbulkan penyakit, seharusnya pembuangan sampah sembarangan merupaka masalah yang harus ditangani pada awal yang harus diperhatikan secara pokok atau utama agar tidak mengakibatkan masalah yang begitu cukup serius dalam masalah lingkungan di Indonesia khususnya di Kota Padang.

Walaupun telah di atur Undang Undang tentang pelanggaran membuang sampah sembarangan akan mendapat denda atau dikenakan sanksi, akan tetapi lain halnya dengan warga Indonesia seperti Kota Padang, walaupun sudah diperingati dilarang membuang sampah sembarangan tetap saja dilakukan dan akhirnya akan menimbulkan keadaan lingkungan tidak bersih atau dengan bahasa kasarnya kotor. Dalam sampah rumah tangga dapat dibedakan yaitu ada sampah kering dan sampah basah atau sampah organik dan anorgani,  jika program ini berjalan dengan baik proses penanganannya maka akan mengurangi pembuangan sampah yang tidak teratur dan polusi lingkungan. Kesadaran pemikiran dan pandai dalam membuang sampah atau membuat solusi pengolahan juga sangat penting agar mudah didaur ulang kembali.

Untuk membantu memberikan solusi pengolahan sampah rumah tangga salah satunya menjadikan berkah diolah menjadi Ramuan Organik Tanaman (ROTAN).

Demikian kata Narasumber Dr. Ir. I Ketut Budaraga,MSi Dekan Fakultas Pertanian Universitas Ekasakti. ketika memberikan sambutan pada acara Pembukaan acara Pelatihan. Acara pelatihan dihadiri sekitar 40 anggota KWT pada Hari Minggu, tanggal 30 Agustus 2020 mulai jam 08.00 – 12.00 WIB.

Dasar program pengabdian ini dilandasi oleh semakin besarnya kebutuhan pupuk anorganik  kelompok wanita tani dalam pemupukan tanaman di pekarangan.

Permasalahan di rumah tangga akan terus  menambah pengeluaran pembelian pupuk anorganik. Sehingga mengurangi pendapatan rumah tangga.

Permasalahan lain kalau ketergantungan kurang baik akibatnya buat tanah, sehingga perlu solusi pengembangan pupuk organic cair yang didahului dengan pembuatan Ramuan Organik Tanaman.

Ramuan Organik Tanaman (ROTAN) sangat kaya akan mikroba yang akan membantu proses kesuburan tanah sehingga bisa berperan sebagai biokatalisator dalam pembuatan Pupuk Organik Cair.

Demikian pemaparan lanjutan Narasumer Dr. Ir. I Ketut Budaraga,MSi. Atas dasar ini Fakultas Pertanian Universitas Ekasakti (UNES) membuat visi pengembangan pertanian berkelanjutan kedepan.

Sekretaris KWT Puskud Saiyo, Ermawati Latif, sangat memberikan apresiasi dan mengucapkan terima kasih atas kesediaan narasumber meluangkan waktu di tengah kesibukan untuk memberikan pelatihan dalam pembuatan Ramuan Organik Tanaman (ROTAN), dengan bahan baku yang berasal dari sampah rumah tangga yang selama ini terbuang. Adanya pelatihan ini akan menambah manfaat sampah rumah tangga diolah menjadi pupuk yang selama ini sangat dibutuhkan tanaman pekarangan sehingga pendapatan KWT ke depan bisa meningkat.

Anggota KWT Puskud Saiyo berjumlah sekitar 40 orang akan merasa sangat senang karena tidak membeli pupuk lagi keluar, atau tergantung kepada pihak luar. Ramuan organik tanaman nanti akan bisa berperan sebagai biokatalisator dalam pembuatan Pupuk Organik Cair.

Pada kesempatan ini atas nama ketua KWT mengucapkan banyak terima kasih sudah diberikan bantuan toang ajaib, tempat pembuatan Pupuk Organik Cair.

Mudah-mudahan tong ajaib ini ke depan bisa dimiliki oleh masing- masing ibu rumah tangga, sehingga proses pembuatan pupuk organik cair bisa diproduksi sendiri. Model tong ajaib ini hanya merupakan percontohan agar ibu-ibu rumah tangga bisa mengembangkan di rumahnya masing-masing.

Kalau hal ini terwujud, mudah-mudahan permasalahan sampah rumah tangga bisa teratasi dan bisa bermanfaat menjadi berkah, buka membuat masalah. Semangat terus iu-ibu, mari bisa berkontribusi dalam pemecahan masalah lingkungan.

Salah satu Pengurus KWT Puskud Saiyo mengatakan pembuangan sampah yang tidak teratur (tidak pada tempatnya) menjadi kebiasaan masyarakat walaupun itu akhirnya menjadi penyebab kerusakan lingkungan dan ketidaknyamanan untuk mereka sendiri.

Walaupun telah disediakan tempat sampah di sekeliling atau pada suatu tempat umum seperti di jalanan, taman, sekolah, rumah sakit, dan di tempat lainnya.  Akan tetapi, tetap saja tangan-tangan kotor yang tidak peduli akan kebersihan membuang sampah di sembarang tempat.

Ada juga di tempat umum yang tidak peduli dengan kebersihan lingkungan, habis makan buang sembarangan walaupun sampahnya kecil dan tidak jauh tempatnya dengan pembuangan sampah (tong sampah). Akibatnya sifat malas membuang sampah pada tempatnya menimbulkan pencemaran lingkungan.

Kurangnya kesadaran masyarakat akan kesehatan dan kebersihan lingkungan tetap saja melakukan hal tersebut. Bahayanya membuang sampah sembarangan dapat menyebabkan berbagai masalah dan berbagai penyakit. Penyakit yang dimaksud yaitu Hepatitis A Disentri, Salmonellosis, Penyakit Pes, Demam Bedarah. Sampah juga bisa meracuni air sungai yang di pakai sebagai sumber air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Akan tetapi, perlakuan manusia yang tidak membuang sampah pada tempatnya menyebabkan kerusakan lingkungan. Kebiasaan membuang sampah sembarangan mengakibatkan sampah menumpuk di kali atau aliran sungai. Akibatnya, ekosistem di dalam sungai akan rusak. Terutama hewan yang hidup di sungai seperti ikan.

Bukan hanya itu, ulah manusia yang membuang sampah di sungai dapat menyebabkan tersumbatnya saluran sungai dan dapat menyebabkan banjir besar dan akan masuk di pemukiman warga sekitar sungai.

Seharusnya kebiasaan masyarakat akan membuang sampah sembarangan harus dihindari mulai dari sekarang agar tidak menjadi suatu masalah besar dan kemudian mengakibatkan kerusakan lingkungan.

Bukan hanya itu saja tumpukan sampah di mana-mana membuat ketidaknyamanan lingkungan dan akan berbau tak sedap akibat tidak adanya melakukan daur ulang pada sampah.  Agar menghindari kejadian tersebut seharusnya warga sekitar melakukan kegiatan sosialisasi kebersihan lingkungan salah satunya menjadi pupuk organik agar kita semua terhindari dari segala penyakit dan bencana lainnya yang tidak diinginkan. (**)

Tidak ada komentar