Breaking News

Hutan Mangrove Tongke-Tongke Sinjai Tingkatkan Nilai Ekonomi Rp 7,6 M per Ha Setahun



MAKASSAR, SUARA PALAPA -- Universitas Muhammadiyah Makassar telah mendapatkan dana hibah Kemendikbud RI sejak tahun 2016 hingga sekarang ini untuk kegiatan penelitian  hutan Mangrove di Kawasan  Pusat Restrorasi dan Pembelajaran Mangrove di Dusun Cempae, Desa  Tongke-tongke, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai.

Kegiatan penelitian ini masih berlangsung hingga sekarang. Untuk periode pertama dimulai 2016 – 2018 dengan tim peneliti, Dr. Irma Sribianti, S.Hut, MP, Dr Abdul Haris Sambu, M.Si dan Dr. Andi Chalijah, M.Si.

Penelitian yang berlangsung tahunan ini melihat Opservasi Pengelolaan Mangrove Berbasis Daya Dukung.


Berlanjut periode kedua 2019-2021 dengan tim peneliti, Dr. Abdul Haris Sambu, M.Si, Dr. Muhammad Yunus Ali, ST, MT dan Dr. Irma Sribianti, S.Hut, MP dengan judul penelitian Model Pengelolaan Hutan Mangrove Berbasis Pariwisata dan Pendidikan.

Salah satu peneliti yang ditemui di lokasi, Dr. Abdul Haris Sambu, M. Si, mengatakan, sekitar tahun 1982 kawasan pemukiman pesisir Desa Tongke-tongke terkena abrasi yang cukup hebat. Jika masuk musim barat tiba ombak sangat besar dan banyak tiang rumah warga yang hilang terbawa air laut.

Menariknya setelah kejadian itu muncul kesadaran masyarakat untuk secara bersama-sama melakukan penghijauan pohon mangrove sekitar pesisir dengan dipelopori H Tayeb.

Kepeloporan sebagai penggiat lingkungan, H. Tayeb ini sudah menuai hasil, sering mendapatkan penghargaan dari pemerintah RI, mulai dari pemerintahan  Soeharto hingga pemerintahan sekarang ini.


Bahkan pernah menerima Kalpataru dari Presiden Soeharto.

Terkait dengan penanaman mangrove, masyarakat Tongke-tongke berharap dengan penanaman mangrove, bisa menahan abrasi, juga dapat menjaga keamanan dari angin puting beliung, karena wilayah Tongke-tongke adalah berhadapan langsung dengan Teluk Bone.

Penanaman mangrove ini  pula dapat mengurangi inturusi (perembesan) air asin ke sumur warga. Dimana sebelumnya untuk mendapatkan air tawar warga harus membeli dari luar kampungnya. 

Manfaat dari sisi biologi, sebut Haris Sumbu, bahwa dengan penanaman mangrove ini, menjadi pusat keanekaragaman hayati, baik untuk organisme air seperti ikan, kepiting, udang serta organisme air lainnya.


Dikatakan, akar dari pohon mangrove ini bisa melindungi organisme air ini dari tukikan dari ikan besar maupun burung.

Tidak kalah menariknya lagi, dari hasil penelitian yang dilakukan bahwa setiap penambahan  1 ha tanaman mangrove dapat meningkatkan nilai ekonomi sampai Rp7,6 miliar per tahun. Dan fungsi social mangrove tambah Haris Sambu dapat meningkatkan  Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dalam bidang pendidikan terbuka untuk semua orang apakah itu  asing, regional maupun lokal.

Seperti yang disebutkan pengelola hutan Mangrove Tongke-tongke, H. Tayeb dengan pengelolaan hutan mangrove ini pengunjung yang datang mencapai puluhan ribu orang dengan harga tiket per kepala Rp 5000.

“Masyarakat Tongke-tongke sudah merasakan dampaknya, bisa menjual berbagai macam kuliner lokal di kedai-kedai mereka  masing-masing,”kunci H. Tayeb. (ulla/yahya)

Tidak ada komentar