Breaking News

Cetaklah Sawah di Kepalamu. Catatan Batin : Mengenang Dua Tahun Kepergian Prof. Dr. H. Andi Mustari Pide

Almarhum Prof. Dr. H. Andi Mustari Pide

Oleh : Ruslan Ismail Mage


SIPIL INSTITUT -- Sebagai akademisi yang mempunyai hobbi menulis buku, saya menganggap diri paling beruntung kalau bertemu dengan Rektor Universitas Ekasakti Prof. Dr. H. Andi Mustari Pide, SH. Betapa tidak ! Pandangan dan pemikiran-pemikiran filosofisnya tentang kehidupan mengalir terus bagaikan sumber mata air yang tidak pernah kering. 
Setiap katanya bermakna dan kalimatnya bertujuan.

Sekali bertemu dengannya, saya bisa menulis puluhan catatan inspirarif untuk mencerahkan kehidupan. Kalau sudah ratusan catatan inspiratif saya tulis di media, dan puluhan buku yang menginspirasi, maka inspirator sesungguhnya adalah beliau.

Ketika meminta ijin untuk melanjutkan pengembaraan literatur ilmiahku dalam mewujudkan obsesiku melahirkan teori baru, sekali lagi beliau menyiram bensin api semangat intelektualku dengan menyuruhku “Mencetak Sawah di Kepala”. Seketika aku diam membisu karena belum mampu menangkap secara spontanitas maksudnya. Dalam kebingunganku, beliau melanjutkan konsepnya bagaimana mencetak sawah di kepala. Katanya sawah adalah sumber kehidupan, bukan hanya untuk petani, tetapi penduduk bumi yang umumnya mengkonsumsi beras. Sawah yang banyak di kampung biarkan orang kampung yang menggarapnya sebagai mata pencaharian petani. Biasanya orang yang memiliki sepetak sawah di kampung seluas satu hektar bisa menghasilkan nilai rupiah untuk memberi kehidupan dan kesejahteraan keluarganya. Jadi sawah di kampung milik orang kampung. 

Kalau ingin punya sawah yang luas ngapain pulang kampung! Cetak sawah di kepalamu! Sehingga kapan dan di mana pun bisa memanengnya sendiri dengan hasil yang sesuai jumlah keinginanmu! Semakin bannyak sawah di kepalamu semakin banyak hasil yang bisa didapatkan. Bila benih berkualitas yang ditabur, akan menghasilkan padi berkualitas super yang bernilai tinggi.

Subhanallah, super  inspiratif. Ternyata beliau menggunakan bahasa analogi sawah untuk menunjukkan pentingnya ilmu pengetahuan dicetak dalam kepala. Karena wejangannya ini, saya sekarang sedang semangatnya mencangkul ilmu untuk mencetak sawah sebanyak dan seluas mungkin di kepalaku, tak terbatas ruang dan waktu. Di sela-sela pengembaraan liretaturku, saya pelan-pelan mengumpulkan tulisanku yang banyak terinspirasi dari kata-kata dan kalimat bijak beliau untuk saya jadikan buku berjudul “Bias-Bias Pemikiran Prof. Dr. Andi Mutari Pide” dan menyerahkan di hari ulang Tahunnya. 

Sampai di titik ini air mataku tumpah tak terbendung, karena keinginan menyerahkan buku pemikirannya tentang kehidupan secara diam-diam tidak akan terlaksana. Tuhan YMK telah mengambil-Nya. Matakupun basah, mengenang manusia paling bijak yang pernah kukenal. Kini dua tahun kepergian Guru Besarku, Professorku, orang tuaku, inspiratorku, navigator jiwaku, dan kompas kehidupanku. Seluruh panca indaraku selalu bersimpuh bersujud di hadapan-Mu yang Rabb. Tempatkanlah orang tua kami di Surga tertinggimu.


Tidak ada komentar