Breaking News

Tanaman Padi Milik H. Patang di Patampanua Diracun Orang yang Tak Bertanggungjawab


Korban H. Patang

Soppeng, SuaraPalapa.Com -- Padi yang ditanam H. Patang di atas tanah persawahan seluas kurang lebih 1 Ha terletak di hamparan tanah persawahan di Kampung Paliccu Desa Patampanua Kecamatan Marioriawa Kabupaten Soppeng Provinsi Sulawesi Selatan.

Sedikitnya sudah 3 bulan lamanya padi tersebut ditanam di atas tanah persawahan tersebut. Namun, kini tanaman padi itu sudah disemprot dengan racun yang diperkirakan jenis Chromoson.

Hal itu diketahui pemilik padi atas pemberitahuan dari salah satu petani, La Tibe, (diperkirakan berusia 50 tahun), Selasa, 17 Maret 2020 di areal sawah tersebut.

Mendengar hal itu, H. Patang hanya bisa urut dada lantaran padinya yang tak lama lagi berbuah untuk dipanen, tampak sudah kering telah diracun. Entah siapa pelakunya.

Meski sudah jelas, siapa yang pernah mengaku membuang air atau mengalirkan airnya sawah tersebut. 

Menurut H. Patang, bukan dirinya sendiri yang menanam atau menggarap sawah itu, terapi bersama dengan Abbas (50), juga warga setempat.

Kini pihak korban telah mengkonsultasikan hal itu kepada Waka Polsek Marioriawa, Iptu Kilik Basuki, di rumah kediamannya di Batu-batu, Selasa Malam, 17 Maret 2020.

Wakapolsek tersebut menyarankan korban untuk melaporkan hal ihwal dimaksud di Kepolisian. Agar polisi bisa lebih cepat menangani. 

"Jika memenuhi unsur pidana, maka pelakunya akan diproses hukum," ancamnya.


Siapa pelaku penyemprotan racun tersebut, menurut Abbas, akan saya ungkapkan nanti di depan polisi.

Abbas mengaku, kalau hari ini, Rabu, 18 Maret 2020, akan menuju ke Polres Soppeng untuk melaporkan permasalahan yang menimpa dirinya.

Sekedar diketahui, informasi dihimpun menyebutkan, kalau tanah tersebut adalah bagian dari sekian ratus hektar milik Perseroan Terbatas Perkebunan Negara (PTPN) yang telah bersertifikat.

Sebelum tanah yang digarap oleh korban tersebut, sudah digarap oleh kakek Abbas, lalu turun temurun lagi ke orang tua Abbas. Hingga Ayahanda Abbas meninggal dunia. Lalu ibunda Abbas, Tammare, menggadaikan kepada korban H. Patang dengan sebanyak Rp 40 juta, sekitar 2 tahun lalu. 2 kali panen atau sekira setahun setelah menggadai dari Tammare, Tammare pun meninggal dunia. 

Terlihat dalam perjanjian gadai, kedua belah pihak bersepakat, jika di kemudian hari ternyata pihak perusahaan sebagai pemilik sah yang ingin mengambil tanahnya, maka yang menggadaikan sawahnya wajib mengembalikan uang gadai tersebut kepada yang berhak atau yang memberi uang gadai (H. Patang).

Apakah pelaku bisa bebas dari jeratan hukum, atas perbuatannya, kita lihat saja nanti. Yang jelas korban akan melaporkan hal ini kepada kepolisian, sejauhmana polisi bisa melacak sesuai professionalisme yang dimiliki. 

Seorang petani setempat, Jumare, diperkirakan berusia 55 tahun, masih sanksi jika polisi mampu memberikan tindakan kepada pelaku, buktinya, ketika sawah itu sudah dikerjakan untuk ditanami (tanah baja), seseorang juga langsung membawa benih untuk menanami. Pelaku bisa terhalang karena dihalangi oleh korban. 

Menurut Jumare, persoalan ini juga ditangani Polisi, tetapi pelaku dengan bersenang hati melenggang kaki pulang kampung dari Mapolres tanpa beban, tanpa jeratan hukum. 

"Saya khawatir persoalan ini akan menemui jalan yang sama. Lalu kemana Korban harus mengadu," kesal Jumare. (alimuddin)

Tidak ada komentar