Breaking News

Dinas PSDA Wajo Pantau Bangunan Liar di Bendungan Bila-Kalola




Wajo, SuaraPalapa.Com -- Sejumlah bangunan rumah di bantaran Bendungan Bila-Kalola Kecamatan Maniangpajo Kabupaten Wajo, meski telah ditegur beberapa kali dari pihak UPTD bendungan itu, tapi tak juga dihiraukan.

Tak dihiraukan menegur pemilik bangunan rumah di bantaran Bendungan itu, Plt. Kepala UPTD Dinas PSDA Wajo di Bila-Kalola, Abd. Rasyid, SP, bersurat kepada Kadis PSDA Wajo.

Surat yang bernomor 46/PSDA/BIL-KAL/XI/2019, tertanggal, Kalola, 11 November 2019, dengan Perihal Penertiban Bangunan Liar itu, berisi penyampaian tentang pihaknya sebagai pengamat di Wilayah UPTD Bila-Kelola dalam lingkup PSDA Kabupaten Wajo, kalau dalam pantauan dan pengawasan kerja, pihaknya menemukan bangunan liar di wilayah sempadan saluran irigasi yang terletak di wilayah Kalosi dan Anabanua yang masuk di wilayah kerja UPTD Bila-Kalola.

Bangunan tersebut, tulis pihaknya dalam surat itu, merupakan bangunan liar tanpa izin dan melanggar Perda Kabupaten Wajo No. 2 Tahun 2009 tentang Irigasi.

Disampaikan juga dalam surat itu kalau pihaknya telah melakukan beberapa kali peneguran secara kekeluargaan kepada  pemilik bangunan liar itu, tapi belum mendapatkan hasil.

Karenanya pihaknya bersurat kepada Dinas PSDA Wajo, untuk meminta petunjuk, saran dan pendapat.

Surat itu ditembuskan kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengang-Jeneberang di Makassar, Kadis PSDA Kab. Sidrap di Pangkajene, Kepala UPT WS Walenae-Cenranae di Pajalele.

Atas surat ini, rupanya pihak Dinas PSDA Kab. Wajo telah menurunkan Tim ke lokasi dimaksud, pada Sabtu malam, 29 Desember 2019.

Hingga berita ini naik tayang, Dinas PSDA Wajo belum dikonfirmasi sejauhmana dilakukan Tim ini dan apa hasilnya.

Menanggapi kejadian ini, Anggota Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) Wilayah Sungai (WS) Walenae-Cenranae (Walcen), Mandaling, Rabu, 1 Januari 2020, selain menyesalkan adanya bangunan liar di bantaran Bendungan Bila-Kalola, ia juga mempertanyakan adanya Tim melakukan operasi malam.

"Kenapa harus malam, selain soal keamanan, ini juga bisa melahirkan kecurigaan, ada apa antara Tim dengan pemilik bangunan liar. Pasalnya, sampai sekarang, bangunan itu masih kokoh berdiri," kesal Mandaling.

"Selain melanggar Peraturan dan Perundang-undangan, perlakuan mereka bisa saja akan diikuti oleh penduduk lainnya," ujar Mandaling.

Menurut aktifis pelestarian lingkungan hidup ini, seharusnya institusi berkompeten, tidak lagi dengan  preventif yang dilakukan tetapi sudah harus action menertibkan pelaku pelanggaran. 

Mandaling adalah warga Kabupaten Sidrap yang jarak antara tempat tinggalnya dengan bendungan itu lebih kurang 30 KM.

Keanggotaannya di TKPSDA berdasarkan SK Menteri PUPR RI Nomor 458/KPTS/M/2019 Tentang Pembentukan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Walanae-Cenranae.

SK tersebut tertanggal, Jakarta, 13 Mei 2019 ditandatangani Menteri PUPR RI l, M. Basuki Hadimuljono.

Senada dengan itu, Ridho, Pemerhati Lingkungan, mengaku bermukim di Makassar, via ponselnya, Rabu, 1 Januari 2019 mengatakan, permasalahan di Bendungan  Bila-Kalola itu, seandainya dari awal petugas tegas dalam menegakkan aturan tak mungkin itu bisa terjadi. 

"Mungkin pertamanya, hanya 1 pondok, berdinding kardus, beratap seadanya, beralaskan karung di atas tumpukan batu dan tanah, makin lama pondoknya jadi rumah, tambah lama lagi jadi bangunan permanen," ujarnya.

"Karena melihat pelanggaran itu dibiarkan saja, penduduk lainnya pun ikut, bertahun-tahun terjadi pembiaran dengan dasar demi kemanusiaan, akhirnya, bangunan liar pun semakin banyak,  petugas sendiri jadi kewalahan, akibatnya, merusak lingkungan dan membahayakan pemanfaatan secara baik bendungan itu," ujar Ridho lagi.

Ridho mencontohkan, betapa sulit penanganan bangunan liar di sepanjang bantaran sungai di Jl. Sunu Makassar, Kalijodoh di Jakarta. Ridho menghimbau, sebelum terlanjur, lebih baik masalah bangunan liar di bendungan Bila-Kalola ini ditertibkan, yang melanggar ditindak saja sesuai hukum yang berlaku.

Ridho menstressing nasehat dokter, lebih baik mencegah daripada mengobati. (alimuddin)

Tidak ada komentar