Breaking News

Dosen Unismuh Makassar ini, Nurlinah Subair, Peserta RDP di DPR RI



SUARA PALAPA, JAKARTA; -- Dosen FKIP Unismuh Makassar, Dr. Nurlinah Subair, M.Si pada Senin (11/3/2019) jadi peserta dengar pendapat di Komisi IX DPR RI di Gedung Nusantara I, Senayan Jakarta.

Doktor Sosiologi PPs-UNM ini diundang untuk mengkritisi dan memberi masukan pada Kebijakan Tentang Penyakit Katastropik dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

"Dengar pendapat ini dilakukan karena  banyaknya surat dan protes tentang obat ini maka kami dipanggil untuk didengar pendapat kami secara umum. Setelah Menteri Kesehatan dan Dirut BPJS menyampaikan pemaparannya," kata Dr. Nurlinah Subair.

Nurlinah pada 10 Oktober 2018 menyurat ke Kementrian Kesehatan menanyakan tentang jaminan pelayanan kesehatan  sesuai standar terapi penyakit kanker.

Kemenkes 7 Desember 2018 membalas surat dan mengatakan Komite Nasional Penyusunan Fornas, sepakat mengeluarkan  bevacizumab  dan setuksimab untuk kanker usus besar (kolorektal) dari Formularium Nasional dan tidak dijamin dalam BPJS, karena tidak cost effective.

Ahirnya dia menyurat ke Komisi IX DPR RI memohon kejelasan kalau obat terapi target dihapus, artinya  pasien tidak  punya kualitas  bagus oleh karena itu apa solusinya atau obat penggantinya, tegasnya.

Kesempatan itu Ketua Makassar Cancer Care Community (MC3) memohon obat bermutu  untuk pasien kanker, terutama  yang  memakai terapy target.

Seperti transtuzumab bagi CA Mamma yang terdiagnosis Her 2 Positif dan dua obat Kanker usus (Bevacizumab dan Sektucimab).

Dimana pasien yang terdiagnosa per 1 Maret 2019 tidak dijamin oleh BPJS untuk kedua obat kanker usus tersebut.

Menurut Hospital Base 2011,  ada sekitar 700 pasien kanker usus besar (kolorektal) di Sulsel. Mereka ini banyak yang  datang pada stadium lanjut dengan menyebar ke paru-paru.

Pada dengar pendapat  ini turut hadir Menteri Kesehatan RI, Dirut BPJS, Fahmi Idris, Ketua  Komite Nasional Penyusunan Formularium Nasional (FORNAS), Pengurus  Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Digestif Indonesia (IKABDI).

Pengurus Cancer Information Care Community (CISC), Pengurus Persatuan Hematologi Mefik Ilmu Penyakit Dalam Indonesia (PERHOMPEDIN), Pengurus ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Pengurus Persatuan Dokter Indonesia Bersatu (PDIB), Internas Society for Pharmaceoconomic and Outcome Reserch (ISPOR). (ma’ruf)

Tidak ada komentar