Breaking News

Sumpah Prajurit Datu Mario, Getarkan Ribuan Pengunjung La Galigo III



SUARA PALAPA, SOPPENG; -- Prosesi Pernyataan sumpah Prajurit Kerajaan Mario, disampaikan kepada Sang Raja Datu Mario sebagai wujud kesetiaan prajurit kerajaan.

Tradisi sastra lisan Mousong adat budaya Addatuang Mario ini dalam rangka menjaga persatuan dan kesatuan kerajaan dipersembahkan dalam kirab Festival Budaya dan Seminar Internasional La Galigo III di Kota Watansoppeng, Senin, 17 Desember 2018.

Prosesi Tradisi lisan mousung atau sumpah prajurit ini  dipersembahkan kepada Bupati Soppeng H A. Kaswadi Razak, SE, diperankan oleh kelompok Budaya Marioriwawo.

Dalam satra lisannya sumpah tersebut berbunyi dalam bahasa Bugis

“Tabe Pung, taddampengennga maraja ilaleng ati mapaccitta, ritudangeng kadera masagenata, pada engkaki maddeppungeng mancaji sabbi,”

“Tabe pung, idimi wala pangulu, idi tomi wala pattengre idimi urampe esso wenni, idi tomi ufunawa-nawa ritinroku.

Appesabbiki aga ufegau, appe cellaki upucakka. Narekko baja sangadie engka ada tenna teppa lila, engka pakkita tenna sio mata, engka gau tennafakedo watakkale appauki Pung….iyya riolota iyya to ri mongritta.

Dalam bahasa Indonesianya kyrang lebih seperti ini;

Permisi Tuan, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya di dalam hati yang bersih di atas kursi yang luasnya, kita semua pada berkumpul menjadi saksi.

“Permisi Pung.. tuanku adalah panutanku dan tuanku juga peganganku, tuanku yang saya sebut siang malam, tuanku juga yang menjadi hiasan angan dalam tidurku."

“Tuanku menjadi saksi, apa yang akan kulakukan. Berkata merah akan kami merahkan, jika esok lusa ada kata yang tidak diucapkan lidah, ada penglihatan yang tidak dilihat dengan mata kepala, jika ada gerakan yang tidak digerakkan tubuh, bertitahlah wahai tuanku, saya di depannya dan saya pula di belakangnya,” kata komandan prajurit ini dengan sumpah prajurit Mario tersebut sambil menghunus Badiknya.

Terlihat para Laskar Prajurit Mario ini menyuarakan sumpahnya dengan suara lantang dan bergetar sembari mengangkat badik sebagai tanda kesetiaan siap perang dalam menjaga kerajaan, persatuan dan kesatuan.

Diketahui, Kirab ini diikuti oleh semua kecamatan, Kelurahan, desa, SKPD dan masyarakat adat Soppeng.

Setelah Kirab Budaya Festival Lagaligo ini, hari itu juga dibuka secara resmi Festival Budaya dan Seminar Internasional Lagaligo III, berlangsung di Waduk Ompo yang diagendakan akan dibuka oleh Gubernu Sulsel. (amiruddin baringeng)


Tidak ada komentar