Breaking News

Ketika Pesan Leluhur Tak Lagi Berbekas…


Oleh : Dr. Muhammad Akil Musi, M.Pd
Dosen Universitas Negeri Makassar

To Matowatta Riolo iyarega To Mariolota (orang-orang terdahulu/leluhur) adalah orang-orang yang  "tidak bersekolah" seperti kita pada hari ini yang sarjana, magister, bahkan sudah doktor. Tetapi mengapa orang tua kita tampaknya lebih baik, arif dan bijaksana?”

Mereka begitu kuat
Mereka sabar
Mereka tak pernah berkeluh kesah
Mereka selalu bersyukur
Mereka senantiasa berpikir positif

Sebab  Mereka

“Malempu” (Jujur)
“Teng mangoa” (tidak serakah)"
"Teng mangempuru (Tidak iri)
“Magetteng” (tegas dalam kata, teguh dalam perbuatan)
“Mappasitinaja” (yang ini pantas, yang itu tidak pantas saya lalukan)
“Matanre siri” (Malu jika melakukan hal-hal yang tidak patut)

“Saya selalu berpesan  kepada anak-anakku mahasiswa, sekolahmu sungguh tinggi, tak setinggi orang-orang terdahulu
Saya mengamanatkan mereka sebagaimana leluhur kita pernah berkata,

Lempu namacca, Iyanaritu madeceng riparaddeki ri watakkale, Iyatonaritu temmassarang dewata Seuwae.

Naiya riasengnge acca, Iyanaritu mitaengngi addimunrinna gaue. Naiya nappogau engkapi madeceng napogaui. Narekko engkai maja, ajasijamupogaui rewei matti jana riko

(Jujur dan pandai, itulah yang senantiasa ada dalam diri yang tidak terpisah dengan apa yang diinginkan oleh-Nya. Orang yang pandai adalah yang memperhitungkan akibat yang akan terjadi dari suatu perbuatan. Maka hanya yang baik yang kau lakukan. Jika salah yang kau lakukan, maka akibatnya akan kembali kepada dirimu).

Pesan leluhur yang seharusnya takkan pernah pupus. Tetapi saat ini ia tak hanya sirna dalam tekstual tapi menghilang di dunia kontekstual. Peradaban ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa kita pada kehidupan yang tak lagi menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan sebagaimana yang telah diwariskan leluhur kita, padahal dunia mereka tak banyak disentuh dengan akademika ilmu pengetahuan. Mengapa mereka “sukses” menjalani hidupnya?.

Hidup mereka “mabbarakka” (penuh berkah). Orang tua kita memiliki anak yang banyak, bisa sampai 7, 10 bahkan mungkin selusin…tapi mereka tetap sabar dan tak pernah mengeluh dengan keadaan. Tak pernah berpikir jalan pintas (shortcut) untuk mencapai sesuatu. Filosofi “nanre na pejje” (nasi dan garam) bukan hanya sebatas kata melainkan benar-benar terwujud dalam kehidupan nyata. Itulah sebabnya mereka “sukses” menjalani kehidupan yang sesungguhnya “tak ada apa-apanya” dibanding kehidupan hari ini yang serba “wah”.

“Iyami ri ala sappo, getteng lempu na ada tongeng (Jadikan keteguhan, kejujuran dan ucapan yang benar sebagai pagar kehidupan). Na resopa teng mangingngi na malomo na letei pammase dewata ( Usaha yang sungguh dan sabar adalah titian akan datangnya Rahmat Allah SWT).
Aja mu mangoa nasaba iyatu ngowae sapu ri pale cappa'na (Jangan serakah sebab ujung-ujungnya kau akan kehilangan segalanya).

Aja mungauwi tennia tane-tanemmu (Jangan mengambil sesuatu yang bukan bagianmu)

Semoga pesan leluhur ini bermafaat bagi saya, dan anak-anakku dan kepada semua mahasiswa yang pernah saya ajarkan soal pesan-pesan ini...atau yang membaca ini....

Pesan-pesan sebagai muatan lokal ini, redaksi Suara Palapa melansir dari group WhatsApp Info Pemilu di-posting oleh Andi Herman Pegawai KPU Kabupaten Soppeng melalui akunnya pada Selasa, 4 Desember 2018 pukul 08.35. WITA.

Group WhatsApp ini eksis sejak menjelang Pilkada Gubernur 2017, dibuat oleh Komisioner KPU Kabupaten Soppeng. Sejumlah komisioner KPU Kabupaten Soppeng dan Pimpinan Parpol di Soppeng tergabung dalam group WhatsApp tersebut.

Sedikit tentang penulis

Informasi dihimpun dari blog pribadi penulis, On Blogger since December 2008

Dalam blognya ia memberi nama
Ikatan mahasiswa bone universitas negeri makassar

Muhammad Akil Musi AKIL MUSI HUMAS of MAKASSAR STATE UNIVERSITY

Gender MALE
Industry Science Occupation Dosen
Location Makassar, Sulsel, Indonesia

Introduction

Dilahirkan di Desa Sumpang MinangaE Kecamatan Sibulue Kabupaten Bone, 24 April 1975.

Pendidikan : 

SDN 214 Kading/Barebbo, SMPN 2 Watampone, SMU Bajoe Bone, S1 Otomotif FT IKIP UP/UNM, S2 PAUD UNM dan S3 UNJ.

Pernah merasakan "duka" bekerja di Asuransi Jiwasraya Makassar, Dewan Redaksi salah satu media cetak di Makassar (SKM Aktualita), staf khusus Gubernur Sulsel (Sekretaris Pemantau Sekolah Unggulan Sulsel) sebelum menjadi Dosen UNM PGTK FIP UNM merangkap Humas UNM dan Pemimpin Redaksi "Tudang Sipulung" sebuah Majalah terbitan Univesitas Negeri Makassar. Tahun 2010 dipercaya sebagai Tim Teknis (Konsultan) Direktorat Pendidikan Kesetaraan Subdit Pendidikan Menengah Dirjen PNFI Kementerian Pendidikan Nasional.

Dalam organisasi, pernah aktif di berbagai ormas dan LSM di antaranya BM PAN Sulsel, Bakumham Golkar Sulsel dan MKGR.

Tahun 2004 mempersunting Sahria, S.Pd dan saat ini dikarunia putera (Asyam) dan puteri (Nina).

Beralamat di BTN Tabaria Baru Blok R/3 Makassar Telepon 0811447938. (*)


Tidak ada komentar