Breaking News

Issue Money Politics Bermodus SIM Berhembus Kencang, Panwaslu Bidik Caleg



Panwascam Marioriawa : Pemberi dan Penerima Suap, Siap-Siap Dipenjara dan Didenda Puluhan Juta


SUARA PALAPA, SOPPENG; -- Hari H Pemilihan Umum 2019 kian hari semakin dekat. Rabu, 17 April 2019 adalah hari pemungutan suara.

Hari itu rakyat berkesempatan menggunakan hak pilihnya secara langsung, umum, bebas dan rahasia (Luber) serta jujur dan adil (Jurdil).

Pemilu 2019 memang berbeda dengan beberapa kali pemilu sebelumnya. Kali ini Pemilu dilakukan secara serentak dengan 5 jenis pemilihan. Panitia pemilihan pun menyediakan kertas suara, yakni;

Abu-abu: Kertas suara untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden.
Kuning: Kertas suara untuk memilih anggota DPR RI.
Merah: Kertas suara untuk memilih anggota DPD RI.
Biru: Kertas suara untuk memilih anggota DPRD Provinsi.
Hijau: Kertas suara untuk memilih DPRD Kota / Kabupaten.

Menghadapi hari H Pemungutan Suara pada Pemilu 2019, para caleg, mulai dari Caleg DPRD Kabupaten/Kota, Provinsi, DPR RI dan DPD RI, kini tengah berupaya mengumpulkan kekuatan dengan berbagai manuver untuk meraih suara sebanyak-banyaknya agar dapat menembus duduk di lembaga perwakilan rakyat.

Salah satu modus caleg, adalah money politic bermodus SIM. Modus ini kini semakin berhembus kencang.

Meski hanya sebatas issue. Tetapi pihak Pengawas Pemilu Kecamatan (Panwascam) Marioriawa, tetap issue ini mengangkatnya ke permukaan hingga pihaknya melakukan investigasi bagaimana kebenaran issue ini.

Issue ini pun ditelusuri, pihak Panwascam Marioriawa, dipimpin ketuanya, Sartono didampingi 2 anggotanya, Yunus dan dan Mustaani, mendatangi salah satu Caleg DPRD Kabupaten Soppeng dari Partai NasDem Nomor Urut 5 Dapil Soppeng 2 bernama Riswan.

Dalam penelusurannya, pihaknya menemui Riswan di lokasi gudang hasil pertanian milik caleg ini di Padali Desa Tellulimpoe Kecamatan Marioriawa beberapa waktu lalu.

Kepada Panwascam, Riswan menyangkal kalau dirinya melakukan money politics bermodus SIM. Ia membenarkan kalau baru-baru ini memang telah mengambil foto atau berfoto beberapa warga di area gudang miliknya. Tetapi, warga yang berfoto itu adalah karyawannya sendiri. Dan itu persiapan untuk dipergunakan sebagai bahan kelengkapan berkas laporan pertanggungjawaban atas kredit yang telah dipinjam dari pemerintah untuk untuk operasional usahanya.

Ditanya soal SIM itu diduga dilakukan di Polres Pinrang karena tak direspon di Polres Soppeng. Riswan malah bertanya, Riswan pun menolak issue itu.

"Bagaimana mungkin ini bisa dilakukan, aturan pengurusan SIM hanya satu. Bukan lain di Soppeng lain juga di Pinrang. Bahkan warga difoto di ruang pengambilan SIM di Polres, apalagi semua harus dengan Sidik Jari segala. Ini tidak mungkin bisa saya lakukan. Issue itu tidak mengandung kebenaran," katanya menyangkal.

Ditambahkan, KTP Soppeng hanya untuk SIM yang warga Soppeng, tandasnya.

Meski menyangkal, pihak Panwascam tetap  terus melakukan investigasi hingga diperoleh bukti materil yang dapat memenuhi unsur untuk diteruskan kasus ini sampai tuntas.

Hal tersebut dikatakan salah seorang Anggota Panwascam Marioriawa, Yunus, di salah satu Warkop di Madining Jalan masuk Kelurahan Kaca Kecamatan  Marioriawa pada suatu malam hari baru-baru ini.

Panwascam Marioriawa, Yunus, mengatakan, pemberi dan penerima suap, siap-siap dipenjara dan didenda puluhan juta, ancam Yunus.

Yang menjadi persoalan, lanjut Yunus, pemberi informasi enggan secara jantan melaporkan kasus itu secara bertanggungjawab.

Bahkan ketika dikejar agar dapat menunjukkan bukti otentik dan bertanggungjawab sebagai pelapor, malah si pemberi informasi lebih memilih mundur, ungkap Yunus.

Dikatakan, ancaman pidana terhadap pelaku suap dalam Pemilu 2019 ini bukan hanya pemberi tetapi juga penerima. Kasus suap ini adalah perbuatan pidana. Ini adalah kejahatan pemilu yang dikategorikan sebagai perbuatan melawan hukum.

Salah satu sumber menyebutkan, jika bersungguh-sungguh menegakkan hukum Pemilu, sumber ini yakin, Bawaslu pasti bisa. Tetapi menurut sumber ini, memang dibutuhkan kerja keras dan cerdas. Apalagi soal SIM ini, modusnya lain lagi, si caleg ini menyerahkan uang kepada calon pemilih yang mau mengurus SIM. Modus ini lagi yang diduga kuat dilakukan Caleg, kata sumber ini memberi dorongan kepada Bawaslu.

Sebagai Panwascam, selain penegakan hukum pemilu, pihaknya juga tetap melakukan pencegahan agar Pemilu 2019 ini menghasilkan calon terpilih yang berkualitas, demi kemajuan  bangsa dan negara serta daerah, tandas Yunus. (tim)


Tidak ada komentar